Aku Merasa, Hanya Akulah Manusia di Dunia yang Mengalami Kepedihan

by - 9:06 AM


“Cerita ini adalah kisah nyata seorang anak manusia yang ingin berbagi ceritanya kepada para readers. Syukur-syukur jika ada pembelajaran atau hikmah yang sama-sama bisa kita ambil dari sepenggal kisah pendek yang tidak seberapa di bawah ini. ‘Tersangka’ begitu panggilan bagi pemilik cerita ini, siapa dia? Sensor, itu permintaannya.. Sebut saja dia itu adalah si ‘aku’..”
November, 2012. Aku, dimana beberapa kisah terjadi menerpa kehidupanku. Kenapa mesti aku..? Ya, aku, masa kamu, cukup aku (saja).. Tapi aku diajari untuk tetap berbaik-sangka terhadap takdir, terhadap ketentuan Allah. Aku pun mencoba bercerita dan bebagi kisah dengan manusia yang kusebut sebagai sahabat, layaknya adegan FTV yang curhat sana sini ketika ditimpa kegalauan. Saat itu, aku merasa memikul beban yang sangat berat, sehingga terkadang aku merasa lelah dan pegel-pegel menghadapinya. Tanggapan mereka, sahabat yang menjadi tempatku berbagi cerita pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan pelan, sesekali menarik nafas dalam-dalam, memberikan pelukan dan pukpukan sampai aku merasa sedikit tenang. Terima kasih, sahabatku.. Ya, aku maklumi, itulah tindakan terbaik mereka ketika mereka buta dengan keadaan, mereka yang sama sekali belum pernah mengalami persoalan sedalam ini. Dalam diam dan hening ketika berakhirnya cerita, hanya ada sepotong do’a di hatiku untuk mereka. Semoga cukup aku saja tempat mereka mengambil hikmah dan pembelajaran dari peroalan seperti ini, Allahumma aamiin. Sebuah status Whatsapp salah seorang teman pun cukup menenangkanku, ‘badai pasti berlalu..’. Sebuah lagu milik salah satu grup nasyid kesukaanku yang diputarkan oleh kakak yang sekaligus partner kerjaku juga berhasil memupuk kekuatan bathinku, ‘EdCoustic – Jalan Masih Panjang’ yang menjadi lagu utama di playlist music player komputerku. Mulai dari hari itu, aku merasa harus hidup selayaknya aku hidup biasanya..

Tertawa. Hal itu yang tak pernah lepas dari bibirku, sampai akhirnya hadirlah senyuman kecil yang buram selepas tawaku itu. Diselipkan oleh hembusan nafas yang sangat dalam tentunya. Aku merasa hidupku selama ini sudah ter-cover penuh dengan tawa. Sahabatku mengenalku yang penuh tawa, temanku mengenalku yang penuh tawa. Mungkin hanya keluargaku saja yang sering melihat wajah senduku lebih dalam, bahkan sangat dalam. Ya, itulah keluarga, lebih dari segalanya.
Itulah sebabnya, aku menanamkan pemahaman di dalam hati bahwa keluarga kecilku nanti  lebih dari segalanya, dunia dan akhirat, keluarga adalah imam/makmum, sahabat, teman, partner, segala-galanya.. Aamiin InsyaAllah. Balik lagi ke cerita tawa-tawaku tadi, sulitnya menghindari ekspresi sedih ketika kita lebih dikenal orang sebagai orang yang penuh tawa, penuh canda. Aku dipaksa untuk tetap ceria, apapun badai yang sedang menerpa hatiku. Satu sisi, aku tidak mau terlihat lemah, aku tidak mau menularkan ‘kelam’ ke setiap keadaan dan lingkunganku. Bagiku, mereka adalah bagian dari obat senduku, obat sementara.. J
Setelah melakukan analisis tersembunyi dari hati ke hati, ada juga seseorang yang memahami ‘kepalsuan’ tawaku. Hebat. Ternyata, dia juga memiliki jenis yang sedikit sama. Diam bersuara. Disebut seperti itu lebih tapatnya (inspirasi dari sebuah iklan rokok xxx di pinggir jalan, maaf bukan maksudku mensensor merk, tapi karena aku lupa itu rokok merk apa sebenernya).  Bedanya, dia sungguh-sungguh diam ketika menghadapi satu atau dua hal yang menimpa hidupnya. Kalau aku, diam juga (percaya gak..? percaya aja deh..), tapi dalam keadaan dan kondisi tertentu. Ketika keadaan yang mendukung, hening, sunyi, aku memanfaatkan keadaan itu untuk berfikir dalam diam, berbicara dan menggambar sketsa hidupku sendiri. Sesekali ada senyuman, sesekali ada tangisan tak terlihat, sekalinya sudah tidak tahan pasti aku lari ke kamar mandi dengan alasan kebelet, padahal kebelet air mata. Awesome! Hidupku penuh kepura-puraan. (standing applause!!)

Perlu dicatat dan digaris bawahi dan diberi stabilo warna ungu atau pink juga boleh, sebenarnya kepura-puraan itu aku lakukan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Seperti itu pilihanku menghadapi masalah hidup. Ketika awan hitam berada tepat di atas kepalaku, aku tidak ingin awan cerah di atas kepala orang lain berubah menjadi hitam karenaku. Biarlah menjadi tugasku untuk mencerahkan sesaat awan hitam yang senantiasa menari di atas kepalaku tanpa mengganggu awan cerah di atas kepala orang-orang sekitarku. That’s better, my mind.

Waktu demi waktu berlalu, awan hitam tak kunjung move on dari atas kepalaku. Timbullah perasaan gundahku: aku merasa, hanya akulah manusia di dunia yang mengalami kepedihan. No one else. Pahit. Aku bisa tertawa sambil memikul beban dipundakku karena sekitarku tertawa, ingin selalu tertawa, dan harus selalu tertawa. Sepulangnya aku dari kantor, hari hampir gelap, energi tawa pun semakin berkurang. Pulang ke rumah dengan salam “Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh..” dan dilanjutkan dengan adegan pelukan dengan mama, cium mama. Saat itu rasanya moment yang pas untukku mengalirkan air mata sepuas-puasnya sambil teriak-teriak, meluapkan apa yang menjadi beban berat dipundakku sepanjang hari, mama pukpuk-in pundakku seolah-olah berusaha membantu meruntuhkan beban yang melekat dipundakku, mama ikut menangis dan satu rumah menangis. Tapi itu hanya sebatas imajinasi tinggat tinggi ku saja, dramatis. Nyatanya, hanya wajah senduku saja yang mampu ku perlihatkan di hadapan mereka, hanya sebatas itu. Mereka pun membalas tatapanku dengan tatapan yang sangat penasaran atas apa yang sedang aku rasakan. Aku tidak ingin membuat rasa penasaran itu terus berlanjut, aku pun berusaha berfikir melakukan suatu keisengan yang bisa mengalihkan perhatian pikiran mereka. Berhasil.

Kamar adalah tempat terindah bagiku, disini aku bebas meluapkan berbagai ekspresi kehidupan tanpa diketahui oleh siapapun (manusia). Ketika di luar mungkin aku bisa ‘berpura-pura’, tetapi di kamar aku bebas melakukan apapun sesuai isi hatiku. Tas kerja pun kuletakkan dengan pelan, kupilih untuk berbaring sejenak merehatkan pundakku yang terasa berat. Kupejamkan mata dan mengingat-ingat kejadian absurd sepanjang hari ini untuk sekedar mengundang ketawa kecilku. Malam-malam hari adalah waktu yang menakutkan bagiku saat itu. Bukan karena hantu, gluduk atau maling yang mengancam. Tapi aku takut hanya karena aku tidak bisa tidur. Ketika mulai muncul secara layar-layar kisah hidupku, cobaan yang menimpaku, kepura-puraanku di hadapan lingkungan, kesesakan yang kutahan di depan orang tuaku, kesepianku ketika tidak ada saudara di sisiku, semuanya adalah ketika aku mulai merasa hanya akulah manusia di dunia ini yang mengalami kepedihan. Itu adalah masa yang sangat aku khawatirkan. Jika selimutku bisa berbicara dan berjalan, dia pasti akan mengundang selimut lainnya satu komplek untuk melakukan aksi unjuk rasa atas tindakan kekerasan pada selimut yang telah aku lakukan, ya, aku mencekeramnya dengan sangat kuat ketika bayangan-bayangan kekhawatiran itu mulai muncul. Maafkan aku, selimutku.. L

Alhamdulillah, satu-satunya dipikiranku adalah aku memiliki keyakinan yang sangat indah. Aku memiliki sesuatu yang sangat dekat bahkan lebih dekat dari urat leherku sendiri. Dimana saat itu aku hanya ingin berlari dan mencari, aku sangat ingin memeluk-Nya, Allah Tuhan Semesta Alam. Akan sangat indah dan menenangkan jika aku bisa berbicara tanpa harus diam, berbicara yang sesungguhnya berbicara, berbicara apa saja yang ingin aku bicarakan tanpa dibatasi karakter seperti Twitter, dibatasi oleh tagihan dan jaringan internet untuk Facebook-an atau ng-Blog, dibatasi waktu dan keadaan ketika curhat dengan manusia. Berbicara dengan yang pantas untuk aku bisa berbicara, apapun, berapapun lamanya hanya pada Allah SWT.

Hanya saat aku berbicara pada-Nya-lah aku bisa merenung, menangis tanpa khawatir besok mataku akan bengkak (masih ada eye liner dan kacamata yang bisa dimanfaatkan untuk menutupi mata bengkak: pikirku saat itu). Muhasabah yang indah terhadap diri sendiri dan diri-diri lain yang ada di hidupku. Mencoba mengerti arah dan jalan pikiran dan hatiku, apa yang salah atas tindakanku selama ini, mengapa aku begitu lemah, mengapa hal ini terjadi menimpaku?? Semua itu terjawab, karena Allah menyayangiku. Ya, sesingkat dan sedalam itu. Allah ingin mengajariku tentang arti bersyukur, arti kesabaran, arti ketegaran dan kedewasaan. Allah tidak ingin usiaku terus bertambah tanpa ada isi yang bertambah pula. Allah ingin meningkatkan kualitas iman dan hidupku dengan menghadirkan cobaan sebagai teguran, Alhamdulillah.

Hari-hari berlalu, aku mencoba tersenyum di depan cermin. Berpikir dan membayangkan seperti apa sih senyumku itu..? Mulai dari senyuman yang datar, senyuman terpaksa, senyuman yang manis, senyuman imut sampai senyuman kena stroke seperti difoto-foto anak remaja jaman sekarang. Akupun tertawa geli sendiri dan bergegas bersiap menghadapi hari. Satu senyuman manis pertama pagi itu kupersembahkan untuk pria yang kucintai pertama kali, papa. Kulihat sinar matanya bahagia melihat tingkahku, aku lega karena sudah mengurangi sedikit rasa khawatir di hatinya, senyumanku itu yang memberi arti bahwa aku baik-baik saja, Alhamdulillah.

Aku mulai berani menghapus persepsi bahwa hanya akulah manusia di dunia yang mengalami kepedihan. Akupun mulai berani membuka diri, berkomunikasi dan berbagi kisah kepada teman dan saudara-saudaraku yang jauh. Aku mulai berperan sebagai pendengar setia untuk orang lain atas segala kisah-kisahnya, aku ingin merasakan apa yang dirasakan olehnya, terutama kepedihannya. Aku mulai sadari, masih banyak orang lain yang jauh lebih pelik masalahnya. Selama ini aku kurang bersyukur, aku mulai belajar mensyukuri setitikpun nikmat yang telah anugerahi Allah kepadaku. Dengan itu, aku merasa bahwa aku tidak pernah sendiri. Beberapa part kisah hidup ini kupetik menjadi pelajaran berharga yang selalu kutunggu hadirnya hikmah terindah dari rencana Allah untukku. Setiap manusia memiliki ujian dan cobaan yang sesuai dengan tingkatan kesanggupannya masing-masing. Seperti itu halnya yang menimpaku, semua pasti sesuai dengan tingkat kesanggupanku, InsyaAllah. Tidak ada alasan lagi untuk aku merasa, bahwa hanya akulah manusia di dunia yang mengalami kepedihan..

Sekian.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh J








You May Also Like

4 comments

  1. T.T
    Awesome !
    ceritanya sangat inspiratif dan menyentuh.. sampe meler bacanya. (read: Pilek).hehe

    "Aku mulai berani menghapus persepsi bahwa hanya akulah manusia di dunia yang mengalami kepedihan". <--- yaapp, masih banyak org2 diluar sana yg mengalami kepedihan yg sama atau bahkan labih pedih dr kisah 'aku'.

    tenang lah 'aku', di balik kesulitan pasti akan dtg kemudahan.. insya Allah di balik kejadian pasti akan hikmahnya.. teruslah berjalan hingga kau menemukan cahaya terang di setiap kegelapan yg kau lalui..

    Pelangi tak akan lelah menunggu hujan reda..hingga ia bisa memberikan berbagai macam warna di hamparan langit luas. :)
    eh, ngomong2 itu lagu maher semacam dgn lagu yg aku suka laa.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih kamu.. :D
      Aamiin, nnti aku sampaikan pada si "aku" yaa... hehe

      Delete
  2. Setiap kesedihan yang berhasil sembuh hanya akan membuat kita semakin kuat...
    Tulisan ini seakan bernyawa dan mengajak kepada siapa saja yang membaca agar "Bersyukurlah"...
    Wake up . .Stand Up . .Get Up . .Smile to Move Up and Try. ."

    Keep writing Yastirefrides -

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeaahhh .....
      Aamiin, Anonim.. maksih yaa... :D

      Delete