Adil Pada Semua Anak

by - 4:44 PM

Bagi yang mempunyai anak lebih dari satu, bisa belajar dari tulisan di bawah ini. Semoga bermanfaat. 😊

🌻🌻🌻

Memiliki anak lebih dari satu berarti kita harus siap dengan beberapa permasalahan yang mungkin timbul, utamanya terkait dengan rasa adil yang dirasakan setiap anak. Demi asas keadilan, banyak orangtua yang suka memberi semua anak barang yang sama, maninan yang sama, baju yang sama, tas yang sama dan semua hal lain yang sama. Padahal, kita ribut kemana-mana bahwa semua anak adalah unik..hehehe

Tapi ya itu lebih mending, daripada orangtua yang seringkali menyalahkan anak yang lebih besar, mendahulukan anak yang lebih kecil, sehingga terasa pilih kasih. Akhirnya timbullah kecemburuan itu. Sudahlah si kakak dimarahi kalau adik nangis (padahal belum tentu juga dia yang salah), harus ikhlas mainannya direbut adik, ibunya lebih lama dengan adik, disuruh menjaga adik, kasiaann..

Tapi kadang adik juga kasian. Dengan alasan penghematan, si adik jarang punya barang baru. Mainan bekas kakak, sepatu bekas kakak, sepeda bekas, krayon bekas kakak yang sudah patah-patah walau bisa dipakai, buku bekas kakak yang sudah penuh coretan, semuaaa bekas. Yang lebih parah, kalau dia punya kakak banyak dan semua punya baju kembar, maka selama bertahun-tahun dia akan pakai baju dengan motif dan warna yang sama hasil lungsuran para kakak, hanya ukuran saja yang berganti-ganti. Mending kalau jenis kelaminnya sama..kalau beda?

Perasaan-perasaan tidak nyaman itu yang akhirnya membuat letupan-letupan kecemburuan. Perasaan ini akan menyebabkan ketidaknyamanan, rasa saling tidak percaya, dan bahkan bisa membuat anak kehilangan jati diri dan kepercayaan diri. Seorang anak yang bersekolah di tempat yang sama dengan kakaknya, biasanya akan diidentikkan dengan si kakak. Kalau si kakak baik dan pintar, semua orang akan menuntut hal yang sama. Kalau si kakak dicap 'nakal', semua orang mungkin akan mengambil jarak pada awalnya.

Untuk membesarkan anak yang mandiri, yang potensi uniknya berkembang dengan baik, yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi, tidak tergantung pada orang lain, maka kita perlu berusaha membesarkan mereka sebagai individu, tidak dikaitkan dengan orang lain. Sebisa mungkin kita memfasilitasi mereka sebagai individu yang bebas, tidak tergantung pada orang lain.

Bukan berarti anak-anak jadi tidak bisa menggunakan sesuatu secara bersama-sama, namun dalam hal kebersamaan itu diperlukan kesepakatan bersama. Kesepakatan ini dapat kita peroleh melalui rapat keluarga. Pastikan seluruh orang yang terlibat merasa nyaman dengan kesepakatan ini. Dalam rapat keluarga, kita juga bisa menanyakan kecenderungan dan kesukaan masing-masing, dan sesama anggota keluarga bisa saling membantu untuk memenuhinya. Memilih sekolah pun, kita tawarkan pada anak. Kalau anak senang bisa sekolah bersama-sama, alhamdulilah. Tapi kalau tidak, tidak perlu dipaksakan.

Dalam menggunakan barang lungsuran, kita juga bisa mendiskusikannya terlebih dahulu. Misalnya si adik butuh sepatu, kita boleh tawarkan apakah dia mau memakai sepatu bekas kakak dengan kompensasi selisih harga barunya sebagai uang tabungan? Kalau dia tidak merasa nyaman dengan sepatu bekas sebaiknya tidak dipaksakan. Mungkin terlihat agak tidak efektif ya..sayang sepatunya kalau masih bagus. Tapi membangun rasa percaya diri dan identitas diri itu jauh lebih penting daripada menghemat sepatu. Sepatu bisa kita sedekahkan pada yang lebih membutuhkan. Kalau uang untuk beli sepatu belum ada, kita bisa tawarkan anak untuk menunggu, bersabar atau menabung. Jangan langsung dibilang :"Itu kan sepatu kakak masih bagus..kamu pake itu aja..ngapain beli mahal-mahal.." Padahal sepatu si kakak warnanya genjreng dan si adik tipe kalem.

Berapapun banyaknya anak kita, usahakan agar kita dapat mencuri waktu dengan masing-masing anak. Secara bergantian kita ajak mereka, bersepeda di pagi hari, berkunjung ke tempat yang mereka suka, bermain dengan permainan yang mereka suka, membeli barang yang mereka suka, dll. Tidak perlu rutin dan sering, tapi cukup terasa spesial, sehingga anak merasa bahwa orangtuanya memperhatikan mereka. Saya suka bersepeda dengan salah seorang anak, berenang dengan anak yang lain, main catur dengan anak yang lain, atau bergantian jajan dengan salah satu anak. Suami pun terkadang mengajak salah satu anak ikut ke luar kota, sekedar bisa ngobrol asyik sambil ditraktir di perjalanan, atau mempelajari hal-hal baru.
Bagaimanapun, kita menuai apa yang kita tanam. Kalau kita menanam bibit permusuhan dan kecemburuan, bagaimana bisa kita memanen kekompakan?
Tentu saja, berhemat itu sangat penting. Namun membesarkan anak yang produktif jauuh lebih penting.

Teh Patra
http://yuria-pratiwhi.blogspot.co.id/

You May Also Like

0 comments