• Home
  • About Me
  • Category
    • Sharing
    • Info & Tips
    • Parenting
    • Family
    • Homeschooling
    • Review
    • Traveling
    • Tentang Buku
    • Gelora Madani Batam
    • Event
Youtube Instagram Twitter Facebook

Cerita Umi


Pengalaman Anak Ikut Lomba Mewarnai: Kalah Tak Mengapa, Asal Kita Mau Mencoba - Sudah lama Al-Fatih/Aal (anak pertama saya) ingin mengikuti lomba mewarnai, dan selama itu pula keinginannya belum juga tercapai. Akhirnyaa, hari Minggu lalu (09/12/2018) keinginannya selama ini untuk bisa mengikuti lomba mewarnai terwujud juga. Senangnya dia.. Dengan semangat membara dia tunjukkan brosur lomba mewarnai yang diadakan oleh Indomaret yang baru saja buka di dekat rumah kami.

Hari demi hari dia hitung, menunggu tanggal 9 Desember itu tiba. Tak sabar dia ingin mengikuti lomba. Sampai-sampai dia berimajinasi, "Umi, nanti Aal mewarnai dengan kekuatan super. Jadi Aal siap duluan, dan Aal menang!" Saya menanggapinya dengan suara yang tak kalah semangat, "Wah! Keren... Aal pasti bisa mewarnai dengan baik dan benar!" MasyaAllah.

Hari yang ditunggu pun tiba. Acara lomba mewarnai dimulai jam 9 pagi. Saya bangunkan dia yang masih tidur jam 7 pagi.

"Sayang, ayo bangun! Mandi dan sarapan, yuk.  Jam 9 Aal lomba mewarnai.."

Tak banyak drama, dia bangun dan bersiap untuk mandi. Saya sudah menyiapkan sarapan pagi untuk Aal dan adiknya, Maryam. Kami sarapan pagi bersama. Saya beri waktu mereka makan pagi selama 30 menit, jam 08.30 sudah harus bersiap keluar dari rumah untuk mengikuti lomba.

Huuhh, Maryam juga sangat bersemangat. Dia tak kalah sibuk mempersiapkan diri, seakan-akan dia juga mengikuti lomba mewarnai. Beberapa pensil warna dia masukkan ke dalam kotak pensil miliknya, meniru Mamasnya yang juga sedang mengemas peralatan mewarnainya. Senangnya melihat mereka semangat seperti itu, saya juga jadi ikutan semangat. Hehehe.

Aal yang menunggu waktu lomba mewarnai dimulai.
Tidak sampai 5 menit, kami tiba di Indomaret, lokasi lomba mewarnai. Belum banyak anak-anak yang sudah datang, masih lega untuk kami mencarikan Aal tempat duduk dan meletakkan meja lipatnya. Lama kelamaan, anak-anak mulai berdatangan dan ramai sekali. Anak-anak duduk sesuai kategori sekolahnya, anak-anak TK di sebelah kanan dan anak-anak yang sudah SD di sebelah kiri. Aal duduk di bagian anak-anak TK karena sesuai denga usianya.

Beberapa menit habis untuk mengatur posisi duduk anak-anak. Maklum, ngatur bocah memang butuh waktu yang ekstra. Hehehe. Setelah anak-anak duduk dengan rapi, panitia memberikan kertas bergambar karakter Indomaret (Si Domar) dan Doraemon yang akan diwarnai oleh anak-anak nantinya. Panitia memandu anak-anak untuk mengisi data dirinya yaitu nama, usia dan sekolah.

Ada yang menarik dan lucu saat saya melihat Aal menulis data dirinya.


Nama: Aal
Usia: 4
Sekolah: Aal - Scol

Anak-anak mengangkat kertas yang sudah diisi data diri, sesaat lagi lomba akan dimulai.
Sontak saya tertawa, lucu tapi jawabannya cerdas. Dia memang belum sekolah di sekolahan umum, tapi dia sudah sekolah di rumah yang sering kami sebut Al-Fatih School.

Kembali ke cerita tentang lomba mewarnainya...

Anak-anak mulai berkreasi dan orang tua tidak lupa mengambil gambar.
Akhirnya lomba dimulai. Panitia memberi waktu kurang lebih 90 menit untuk anak-anak menyelesaikan kreativitas mewarnainya. Ada beberapa syarat wajib yang harus anak-anak penuhi jika ingin memenangkan lomba, yaitu warna karakter Indomaret yang bernama Si Domar tidak boleh salah, warna logo Indomaret juga tidak boleh salah, kertas harus full color, dan anak-anak tidak boleh dibantu oleh orang tuanya.

Dengan ekspresi polos, beberapa anak tampak mengerti saat panitia menyampaikan aturan lomba, beberapa anak tampak tidak memperhatikan panitia yang berbicara, ada juga anak lainnya sibuk bercanda dengan teman sebelahnya, dan Aal tampak mengangguk-angguk seolah-olah mengerti. Saya hanya tersenyum, saya berusaha tidak ikut campur sama sekali. Saya ingin melihat Aal berjuang sendiri, saya ingin mengukur kemampuannya dalam menerima instruksi dan melaksanakannya.

Mamak-mamaknya menyemangati anak-anaknya. Mamaknya Aal aja yang sibuk moto kesana kemari.

Jeng..jeng! Perlombaan dimulai. Anak-anak tampak semangat mewarnai. Mereka yang mengerti instruksi bolak balik melihat contoh warna Si Domar dan logo Indomaret yang terpampang di backdrop acara, mereka menyesuaikan warnanya agar tidak salah. Aal pun begitu, dia melihat warna Si Domar dan mewarnainya sesuai yang warna yang ada di backdrop. Sejauh itu saya melihat Aal sangat keren!

Ciee..yang lagi serius..

Beberapa menit berlalu, rasanya belum sampai satu jam. Aal mulai tampak bosan. Dia berdiri, dia melihat beberapa teman di sekitarnya, dia melihat ke arah saya dan tertawa ketika melihat adiknya. Maryam pun beberapa kali memanggil Mamasnya, mungkin dia heran Mamasnya sedang apa di sana bersama banyak anak-anak lainnya. "Mamas....ayo, sini!" Teriak Maryam ketika Aal sedang mewarnai, kemudian dibalas senyuman oleh Aal.

Termenung, wajah mulai bosan.

Di tengah jalan, Aal mungkin sudah tidak tahan lagi. Dia ingin mengakhiri perlombaan ini. Dia resah, bediri beberapa kali. Saya khawatir dia mengganggu teman sebelahnya. Gawat, mamaknya bisa kesal karena anaknya yang lagi serius mewarnai jadi terganggu karena Aal yang sudah bosan. Wkwkk.

Akhirnya saya bertanya, "Kenapa, Sayang? Udah?"

"Udahlah, Mi... Udah siap Aal." Jawabnya.

"Lho, kata oomnya kan, harus full color." Saya coba membujuknya untuk tetap melanjutkan perjuangan.

"Udahlah, Mi.." Jawabnya lagi. Baiklah, perjuanganmu selesai sampai di sini. Saya memanggil panitia. Saya suka respon panitianya yang santai dan tetap memuji kreativitas Aal, meskipun belum full color seperti yang diinstruksikan. Aal tersenyum lega, dia telah selesai berjuang, ketika teman-temannya masih terus berjuang.
Aal berfoto dengan hasil mewarnainya sebelum menyerahkan hasil mewarnainya ke panitia.

Anak-anak lainnya yang masih berusaha berjuang
Yaa, tidak apa-apa, passion masing-masing anak berbeda. Mungkin passion Aal bukan pada berkreasi dengan aneka warna, atau mungkin dia masih harus berlatih lagi agar bisa lebih berkreasi dengan warna. Kita lihat saja nanti. Apapun itu, yang penting dia menyukai dan menikmatinya.

Saya sangat mengapresiasi dia yang berani ikut lomba, dia yang semangat ikut lomba. Apalagi, ini adalah pengalaman lomba mewarnai pertamanya. Saya dan suami mengizinkannya jajan di Indomaret, apa yang ia inginkan sebagai hadiah dari kami atas keberaniannya. Syukurnya dia hanya mengambil 1 bungkus ciki Taro untuk cemilannya. Selamat dompet mamak, untung dia nggak khilaf ngambil cemilan banyak. Wkwkwk.

Saat di kasir, dia melihat beberapa piala yang berbaris. Piala itu adalah hadiah untuk anak-anak yang memenangkan lomba mewarnai tadi. Renyuhnya hati saya ketika Aal berkata, "Umi, ini untuk siapa? Aal mau ini. "

"Sayang, ini piala untuk yang menang lomba. Menang lomba syaratnya ya harus mengikuti aturannya, Aal tadi belum menyelesaikan tugas mewarnainya sesuai aturan yang full color. Tapi nggak apa-apa, Aal belajar dulu, nanti kalau rajin belajar juga Aal akan bisa, InsyaAllah." Aal masih memandangi piala itu, dia ingin memegangnya tapi ragu.

"Om, boleh dipegang untuk foto?" Saya berinisiatif minta izin ke petugas kasirnya untuk meminjam pialanya dan berfoto, dan dia menginzinkannya.


"Pegang ini, Sayang. Foto dulu, suatu saat nanti Aal bisa dapat piala beneran." Aal tampak senang tapi malu-malu, hehehe. Saya pun mengabadikan moment itu di kamera smartphone saya.

Kalah hari ini tidak mengapa, Nak. Jalanmu masih panjang, jangan sedih kalau kamu belum bisa membawa piala itu pulang. Terus belajar, raih prestasi dari apapun yang kamu sukai. Bagi Umi dan Abi, Aal sudah menang. Menang karena sudah bersemangat, menang melawan rasa malas bangun tidur, menang karena mau mencoba.

Selamat yaa, Nakkk.... Tetap semangatt!!!

Share
Tweet
Pin
Share
12 comments

Kenali 4 Dampak Buruk Mengkritik Anak dan Cara Mengkritik Anak Dengan Cara Yang Tepat - Kritikan memang bisa datang dari mana saja, kapan saja, dan untuk siapa saja. Tak terkecuali juga untuk si buah hati. Niat hati inginnya tak mengkritik, terlebih hanya untuk mengontrol perilaku anak saja. Tapi kadang kita malah terlarut dengan emosi dan keluarlah kritikan yang cenderung terdengar kasar terhadap si anak.

Wah, perilaku ini tentu harus dihindari sekali ya, Mak. Karena kritikan yang terlontar secara pedas kepada sang anak, tentu akan membuat mentalnya menjadi terganggu. Waduh, bisa menggangu perkembangan dan pola pikir anak di masa yang akan datang, lho. Jadi, kita harus tahu betul bagaimana menyampaikan kritikan yang postif dan membangun pribadi si kecil. Jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Ulasan berikut adalah tentang beberapa dampak buruk yang diakibatkan karena mengkritik anak-anak dengan cara yang kurang tepat atau kasar.


1. Si kecil akan memiliki perasaan tidak dicintai

Gambar: pondokibu.com
Jangankan anak-anak, orang dewasa pun akan merasa enggan, tersinggung, bahkan marah, jika ada seseorang yang mengkritiknya terlalu berlebihan. Nah, bayangkan jika hal tersebut malah dilakukan oleh para orang tua kepada anaknya. Sang anak pun akan memiliki rasa tidak dicintai oleh kedua orang tuanya. Pasalnya tudingan yang pedas justru akan membentuk pandangan si kecil tentang orang tuanya yang membeci apapun tentangnya.

Alih-alih berubah, malah si kecil menjadi tertekan dan cenderung menjadi anak yang tertutup. Tentu tidak ada orang tua yang menginginkan seorang anaknya kelak menjadi pribadi yang tertutup, kan. Jadi sebaiknya pilih kata yang tepat untuk menyampaikan keritikan ya, Mak.

2. Anak menjadi pribadi yang kurang percaya diri 

Gambar: loop.co.id
Kalimat yang bernada merendahkan dari kedua orang tua secara terus menerus tentu akan tersimpan baik dalam otak dan alam bawah sadar anak. Hal itu akan berdampak kurang baik untuk masa depannya, karena bisa membuat sang buah hati menjadi tidak berani menghadapi tantangan. Dia merasa dia selalu salah, dia berbeda, dia tak sempurna. Pikiran tersebutlah yang membuat rasa percaya dirinya sirna.

3. Kritik yang pedas akan membentuk karakter negatif


Gambar: qupas.id
Setiap anak dilahirkan dengan fitrahnya masing-masing. Sebagai orang tua, tugas kita adalah menuntun dan mengawal langkahnya agar tetap berjalan sesuai dengan fitrahnya. Jangan sampai, kita sebagai orang tua yang malah mencontohkan perilaku kurang baik di hadapan anak. Memberikan kritik yang cenderung kasar akan membentuk karakter negatif pada anak, tentu ini dapat menciderai fitrahnya.

Ingatlah bahwa masa anak-anak itu adalah masa emas. Dimana watak dan karakternya saat dewasa akan tercetak sejak ia masih anak-anak. Tentu kita mengharapkan anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang baik dan positif, kan. Maka, berhati-hatilah mengkritik anak, jangan sampai menghakiminya dengan kritikan yang kasar.

4. Anak menjadi tidak dapat membedakan mana perhatian mana kritikan


Gambar: kompasiana.com
Dampak buruk akibat sering mengkritik anak adalah si kecil menjadi tidak bisa membedakan mana perhatian orang tuanya dan mana kritikan orang tuanya. Karena seringnya mendapatkan perkataan yang kurang baik baik dan kritikan (omongan) kasar perihal apa yang si anak perbuat, tentu akan membuatnya tidak peka dalam menilai ekspresi wajah orang tuanya.

Si anak akan mengabaikan setiap ekspresi yang diberikan dari orang tuanya, meskipun sang ibu dan ayah tetap memberikan pujian padanya sesekali, tetapi dia tetap menganggap itu sebagai kritikan. Perhatian yang kita berikan menjadi bias di mata sang anak. Orang tua mana yang mau diabaikan oleh anaknya saat memberikan pujian?

Lalu...Bagaimana Caranya Memberikan Kritikan Yang Tepat Untuk Anak?


Untuk menghindari anak dari beberapa dampak buruk seperti di atas, kini saatnya kita menerapkan cara mengkritik yang bersifat positif kepada anak. Atur kembali niat dan tujuan kita, yaitu untuk membangunnya dan membuatnya menjadi lebih baik lagi. Niat yang baik tentu harus diiringi oleh cara yang baik pula, kan?

Gambar: kompas.com
Bagaimna caranya? Caranya adalah dengan membuka komunikasi antara orang tua dan anak ketika suasana tenang. Terapkan teknik “sandwich” seperti yang ada di dunia kerja dalam menyampaikan kritik kepada partner kerja. Layaknya sandwich, ada roti tawar di bagian atas dan bawahnya, dan di bagian tengahnya terdapat isi atau inti dari sebuah sandwich tersebut.

Ibarat roti tawar yang pertama, suguhkan kalimat positif yang tetap membangunnya. Kemudian mulai ke isi atau inti dari perkara yang ingin kita kritik, lalu ditutup kembali dengan roti tawar yang kedua yaitu kalimat yang positif dan meyakinkan bahwa dia adalah anak yang baik.

Misalnya, "MasyaAllah, kamu memang anak yang kreatif! Umi bangga sekali. Besok gambarnya di kertas ya sayang, bukan di tembok. Pasti akan lebih keren kalau di kertas, karena kertas itu warnanya putih, jadi pasti akan membuat gambarmu terlihat lebih jelas. Pasti Umi akan semakin bangga.."

Jangan lupa akhiri pembicaraan dengan kalimat yang menyiratkan bahwa kita menyayanginya dan juga disertai dengan pelukan.

Cara ini tentu lebih efektif dan akan memberikan efek yang positif untuk anak agar anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan lebih baik lagi kedepannya.

Itulah dampak sekaligus cara yang tepat untuk menyampaikan kritik secara positif kepada sang anak. Bagaimana, Mak? Apakah punya kiat-kiat khusus dalam menyampaikan kritik kepada anak? Sharing yuk!
Share
Tweet
Pin
Share
7 comments



7 Cara Merancang Masa Depan Cerah - Tulisan ini adalah catatan kecil untuk diri ini secara pribadi, tapi alangkah bersyukurnya saya jika tulisan ini juga bisa mencerahkan hati para pembacanya.

Siapa, sih, yang tidak ingin mempunyai masa depan yang cerah? Pasti semua orang mau, kan? Nah, untuk definisi "cerah" ini pun tiap orang berbeda-beda. Ada yang sudah merasa cerah dengan kehidupannya yang sederhana, keluarga yang lengkap dan bahagia. Ada yang belum merasa cerah kalau belum mempunyai pekerjaan yang bergengsi, rumah yang mewah, sering jalan-jalan ke luar negeri, mobil baru setiap waktu meskipun sampai harus ikut lelang mobil yang penting mobilnya bisa terus gonta-ganti, dan lain sebagainya.

Jadi, tentukan dulu makna masa depan yang "cerah" menurut kita itu seperti apa. 1..2..3.. Ok, sudah! Baik, setelah kita memahami seperti apa masa depan yang cerah berdasarkan versi kita, saatnya kita menyusun strategi. Mempunyai masa depan yang cerah itu tentu berawal dari masa kini, apa yang sudah kita lakukan saat ini untuk masa depan? Sudah optimalkah ikhtiar dan usaha kita selama ini sehingga kita layak untuk mendapatkan masa depan cerah yang menjadi impian?

Di bawah ini akan saya bahas satu per satu, bagaimana merancang masa depan yang cerah. Simak, yah...

1. Belajar


Sumber gambar: Harian Analisa
Belajar itu adalah salah satu fitrah manusia, sejak bayi, bahkan sejak masih di dalam kandungan. Belajar itu tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Tidak harus hanya berada di bangku sekolah, tidak harus terbatas hanya di usia sekolah.

Sebagai manusia yang ingin mempunyai masa depan yang cerah, kita tidak boleh berhenti belajar. Apalagi di zaman sekarang ini kita dituntut untuk lebih cerdas dan harus kaya informasi. Kalau tidak, ya kita bisa tertinggal. Manfaatkan pula kemajuan zaman (teknologi) yang membuat kita tidak lagi terhalang untuk belajar. Tidak ada alasan untuk tidak bisa lagi belajar! Perkaya ilmu, karena ilmu adalah bekal untuk masa depan yang cerah.

2. Tentukan visi dan misi hidup

Sumber gambar: Google

Kenali diri kita, siapa diri kita, untuk apa kita hidup di muka bumi. Tentukan visi dan misi hidup kita agar kita lebih mudah berjalan sesuai arah dan tujuan yang sejalan dengan hati.

3. Membangun jaringan / silaturahmi


Sumber gambar: Google

Kita ini makhluk sosial, pastinya kita butuh manusia lainnya untuk saling bersinergi. Buka diri untuk mau mengenal orang lain dan tempatkan diri sesuai dengan bagiannya masing-masing. Agama kita juga mengajarkan kita untuk senantiasa menjalin silaturahmi, karena silaturahmi itu memudahkan rezeki.

4. Menjaga attitude

Sumber gambar: Google

Cerdas saja tidak cukup jika tidak diseimbangkan dengan attitude yang baik. Attitude anak muda di zaman sekarang sedikit agak menyedihkan dibandingkan zaman dulu menurut saya. Sikap sopan santun dan saling menghormati sesama harus lebih dikedepankan lagi. Tugas, nih, untuk para orang tua seperti kita.

5. Profesional

Sumber gambar: Google

Mengerjakan sesuatu pekerjaan dengan tekun dan sungguh-sungguh. Menjadi seorang yang profesional itu juga harus disiplin, taat terhadap peraturan dan tata tertib yang ada.

6. Perencanaan yang matang

Sumber gambar: Futuready

Membuat perencanaan untuk masa depan itu sangatlah penting. Membuat perencanaan itu menjadi salah satu ikhtiar kita agar mendapatkan masa depan yang cerah, setidaknya kita bisa tetap dalam kondisi "aman" jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di masa depan. Perencanaan masa depan di sini salah satunya adalah asuransi. Baik itu asuransi kesehatan, asuransi perjalanan, asuransi kecelakaan atau asuransi mobil.

Bicara soal asuransi, saya termasuk salah satu orang yang bingung memilih asuransi. Dan ternyata sekarang ada futuready.com yang merupakan supermarket asuransi online berlisensi OJK. Wahh, asuransi ada supermarketnya? Iyaa, jadi di sinilah tempatnya untuk memudahkan kita mencari, membandingkan dan membeli asuransi yang paling lengkap dan tentunya sesuai dengan apa yang kita butuhkan.

Futuready.com memilih produk-produk Asuransi terbaik dari berbagai perusahaan asuransi terkemuka dan menawarkannya kepada kita berupa sajian informasi yang ringkas, jujur dan tidak memihak. Nah, ini penting. Karena itulah, sekarang saya tidak perlu bingung lagi memilih asuransi. Memilih asuransi yang tepat adalah bagian dari perencanaan yang matang untuk masa depan cerah!

7. Berdoa


Sumber gambar: Google


Berdoa adalah bagian yang terpenting dari sekian cara kita untuk meraih masa depan cerah. Tanpa doa, semua sia-sia. Allah-lah yang mempunyai kehendak paling tinggi untuk setiap episode kehidupan manusia, hanya kepadaNya kita meminta, maka mintalah dengan sungguh-sungguh agar kita bisa mendapatkan masa depan yang cerah. Baik itu masa depan di dunia maupun masa depan di akhirat.

---

Itulah 7 cara agar mendapatkan masa depan yang cerah. Sudah sampai dimana ikhtiar kita untuk meraih masa depan yang cerah?
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Oxyglow Untuk Perawatan Kulit Wajah Yang Berjerawat - Pernah nggak, sih, kita berada di titik lelah mencari perawatan kulit wajah yang pas? Duh, saya pernah. Awalnya merasa cocok, tapi ujungnya kok jerawat muncul lagi...muncul lagi. Apalagi menjelang masa haid, hmm, jerawat gede di bagian dagu jadi langganan dan lama pula hilangnya.

Tapi saya pernah merasa nyaman dan sukaa banget sama kulit wajah saya. Bersih, tanpa minyak berlebih, jerawat yang jarang sekali muncul. Dan itu ketika hamil. Ya, entah kenapa wajah saya jadi idaman banget waktu hamil. Padahal nggak pakai banyak skin care macam-macam, kan, karena khawatir berdampak kurang baik untuk janin. Tapi masa iya saya harus hamil terus demi mempunyai kulit wajah idaman? Beraaaat...

Jadi, beberapa hari yang lalu saya mengenal produk perawatan wajah dari Oxyglow lewat instagramnya @oxyglow_indonesia dan @oxyglowpusat_bekasi. Saya langsung tertarik untuk mencoba, kenapa? Karena produk Oxyglow ini aman digunakan untuk ibu hamil dan ibu menyusui sekalipun. Itu berarti, bahan-bahan yang terkandung di produk Oxyglow ini aman dan tidak mengandung bahan-bahan kimia yang berbahaya. Meskipun saya sedang tidak hamil, menyusui juga sudah mau berakhir, saya tetap tidak mau sembarang memakai produk.

Ternyata benar, produk di Oxyglow ini sudah bersertifikat BPOM dan Halal. Nahh, ini penting bagi saya untuk memilih produk perawatan apapun. Saya jadi makin penasaran untuk mencoba produk Oxyglow ini. Tambah lagi, packagingnya juga cantik, tampak elegan dengan warna goldnya. Produk yang ingin saya coba adalah oxy acne spot untuk jerawat yang sedang meradang (jerawat batu, jerawat pasir, jerawat bengkak), oxy acne cleanser dan oxy acne serum dengan kandungan tea tree oil dan salicylic acid yang tidak diragukan lagi kemampuannya dalam mengatasi jerawat.






Soal harga bagaimana? Harganya cukup “waras” menurut saya, untuk oxy acne cleanser Rp125.000, oxy acne cleanser Rp150.000 dan oxy acne serum juga Rp150.000. Hmm, tapi setelah saya cari tahu, ternyata Oxyglow juga punya beberapa paket produk. Saya jadi berpikir lagi, apa lebih baik ambil paketnya saja, ya? Biasanya harga paket lebih murah dari pada harga satuan, kan? Otak mamak-mamak mode on.

Ternyata, paket untuk kulit wajah yang berjerawat pun ada beberapa pilihan. Bingung, deh, sayaa… Berikut ini adalah pilihan paket Oxyglow untuk kulit berjerawat yang bisa dipakai kurang lebih selama 2 bulan:



1. Paket acne kinclong cuma Rp700.000 sudah dapat face soap, day cream, night cream, cleanser, spot acne dan serum acne.


2. Paket acne super kinclong Rp850.000, dapat face soap, day cream, night cream, cleanser, spot acne, serum acne dan peelface serum dengan manfaat peeling yang akan membuat wajah glowing dan lembut.

3. Paket acne platinum kinclong Rp1.050.000, dapat dapat face soap, day cream, night cream, cleanser, spot acne, serum acne, peelface serum, dan glowing cream.

Sepertinya memang jadi lebih hemat kalau ambil paket, ya. Tadi juga saya sempat lihat di instagram, pembelian paket-paket ini juga banyak diskon dan gratisnya, lho. Wahh, menang banyaak kita kalau beli pakeeet! Penasaran, kan? Langsung deh, cek instagramnya di @oxyglow_indonesia dan @oxyglowpusat_bekasi.

Saya tipe orang yang banyak tanya sebelum membeli produk perawatan kulit wajah, tidak bisa langsung yakin hanya dari tulisan yang tertera. Ya, itu karena saya agak takut sembarang mencoba-coba produk yang berurusan sama kulit wajah. Jadi, yang pertama saya lakukan adalah mengecek testimoni dari orang-orang yang sudah pernah memakai produk Oxyglow. Syukurnya ada di webnya oxyglow.co.id dan ternyata banyaak sekali testimoni yang membuat saya menjadi semakin mupeengg!


Salah satu dari sekian banyak testimoni.
Dan hal lain yang saya sukai di Oxyglow ini, kita bisa konsultasi dulu sebelum membeli, apakah produk yang kita inginkan memang pas untuk jenis kulit kita? Konsultasi bisa via live chatting di websitenya oxyglow.co.id dan juga bisa langsung pesan produknya via chat saat itu juga. Jadi benar-benar harus meyakinkan diri sebelum mencobanya.

Hmm, gara-gara Oxyglow saya jadi membayangkan wajah saya jadi mulus, glowing, dan licin seperti pelosotan anak-anak. Duh, terbayang pula wajah mbak-mbak Korea sana, siapa tahu bisa kayak wajahnya Yoona. Ya Allah, hindarilah hamba dari halusinasi. Hehehe. Yang perlu diingat, perawatan seperti ini hasilnya tidak bisa instan, harus rutin dan sabar.

Ahh, semogaaa, Oxyglow ini menjadi solusi dari masalah kulit wajah saya selama ini, yaa..

Gimana? Penasaran juga nggak sama produk perawatan kulit dari Oxyglow ini?
Share
Tweet
Pin
Share
7 comments

Ketika Anak Mulai Tantrum - Dalam hitungan hari, genap 2 tahun sudah usianya Maryam, anak kedua kami. Di usia ini banyak sekali perkembangan yang sering membuat kami terkejut dan kagum, MasyaAllah. Dia sudah bisa menyusun lego, bermain peran, dia sudah bisa memilih, sudah bisa berpendapat, sudah bisa berkompromi, dan banyaak lagi.

Waktu terasa sangat cepat berlalu, kini dia sudah bukan bayi lagi. Bicaranya pun sudah tergolong baik untuk anak seusianya. Tapi layaknya anak usia 2 tahun pada umumnya, dia juga pernah mengalami tantrum. Ibu-ibu mana yang nggak pernah panik kalau anaknya tantrum? Panik pasti pernah, tapi balik lagi, panik bukan menjadi solusi, malah bisa membuat keadaan jadi lebih tidak kondusif.

Apa itu tantrum? Tantrum itu ledakan emosi, biasanya terlihat dengan sikapnya yang menangis kencang, berteriak, mengamuk, ada yang sampai berguling-guling, ada juga yang sampai memukul atau bahkan membenturkan kepalanya sendiri. Ngeri, ya? Iya, harap tenang, Mak, ini ujian!

Tantrum ini adalah proses perkembangan yang wajar terjadi pada anak usia balita, biasanya mulai dari usia sekitar 2 tahunan. Tantrum akan berkurang perlahan dengan sendirinya, tentu saja jika kita bisa menghadapinya dengan tenang dan tidak "ketularan tantrum". Catat itu, jangan ketularan tantrum yaa, Mak! Hehehe.

Percayalah, masa-masa ini adalah salah satu masa sulit bagi para ibu yang sehari-hari menghadapi anaknya. Penanganan yang salah, itu bisa berakibat fatal terhadap perkembangan emosinya. Lalu bagaimana cara menghadapinya?

TENANG. Tenang, jangan tinggikan suara menyaingi suaranya. Peluk dia, usap punggungnya. Biasanya saya bisikkan kata-kata sayang, "Adek ngomong sama Umi, adek mau apa, sayang?", "Udah, yaa.. Umi peluk, ya.. Umi sayang adek."

Biasanya setelah saya perlakukan seperti itu, akan terasa nafasnya mulai berhembus panjang dan tenang, bahkan sampai dia jadi ketiduran. Percaya, kan, kalau pelukan itu mempunyai kekuatan ajaib untuk meluluhkan hati yang keras dan terbakar emosi? Kalau saya, sih, sangat percaya karena itu yang saya rasakan dan juga saya alami.

Baca juga: Manfaat Pelukan Tanpa Kita Sadari

Bagaimana kalau anak tantrum karena menginginkan sesuatu?

Tantrum sering kali dijadikan "senjata" bagi anak untuk meminta sesuatu yang ia inginkan. Dia mau bermain gunting, tentu saja kita tidak mengizinkannya. Lalu dia tantrum. Apa yang sebaiknya kita lakukan? Tetap memberikan guntingnya kepada anak agar dia diam? No! Tidak yaa, kalau memang tidak ya tidak. Jangan penuhi kemauannya karena dia mulai mengeluarkan "senjatanya".

Tapi dilihat kasusnya juga. Kalau permintaannya hanya memakan wafer atau ciki, mungkin bisa kita kasih persyaratan. Misalnya, boleh makan ciki ini setelah makan siangnya habis. Jadi nggak kaku, tapi nggak longgar juga. Dan pastinya, jangan berikan kemauannya saat ia tantrum agar dia diam dan berhenti mengamuk.

Tips menghadapi anak tantrum karena menginginkan sesuatu:

1. Tenang

Lagi-lagi, mah, tenang. Pasang wajah tidak ada masalah apa-apa, slow bae, ambil nafas, ambil kue dan kunyah-kunyah, dan jangan lupa minum air putih banyak-banyak.

2. Pastikan tidak membahayakan anak

Lihat sekitar anak, apakah ada benda-benda yang berbahaya? Khawatir dia terjatuh karena mengamuk, khawatir ada listrik, dan lain sebagainya. Pokoknya pastikan tempat di sekitarnya aman.

3. Peluk saja

Banyak bicara ketika anak tantrum itu sia-sia, bikin capek urat leher, yang ada malah bisa ikutan tantrum karena kita merasa tidak didengarkan. Jadi, peluk saja. Tenangkan dia dengan ketenangan kita, tepuk lembut punggungnya, usap halus kepala dan tubuhnya.

4. Ajak bicara ketika sudah tenang

Bicaralah ketika dia mulai tenang. Beri penjelasan kenapa kita tidak mengizinkannya memegang gunting. Meminta maaf kalau kita tidak bisa memenuhi keinginannya kali ini, beritahu dia bahwa ada waktunya nanti dia akan berlajar menggunting, tapi bukan di usianya saat ini. Bagaimana kalau dia tetap menangis atau tantrum lagi? Biarkan saja. Ulangi langkah nomor 1 dan 3, lalu lanjut ke nomor 5.

5. Alihkan

Ajak bicara atau cerita tentang hal lain yang menyenangkan dan menarik perhatiannya agar bisa move on dari drama yang sebelumnya terjadi. Jauhkan guntingnya selaku benda yang menjadi penyebab keriwehan ini dan jangan dibahas lagi.

6. Sabar

Sabar adalah kunci semua cara di atas bisa terlaksana dengan baik. Sadar, bahwa yang kita hadapi ini adalah anak yang kita sayangi. Apa yang kita lakukan akan terekam di otaknya saat itu juga. Jika kita tenang, sabar, menghadapinya dengan kasih sayang, maka isnyaAllah dia akan tumbuh menjadi seorang yang sabar dan penuh kasih sayang pula. Sebaliknya, jika kita menghadapinya dengan letupan amarah bahkan sampai kekerasan, semua akan terekam oleh anak dan khawatir dia akan meniru dan kita juga yang akan menyesal nantinya.

Yaa, begitulah lika-liku kehidupan menghadapi anak usia 2 tahunan yang sudah mulai tantrum. Alhamdulillah, baik Aal atau Maryam tidak pernah tantrum berlebihan yang sampai menyakiti dirinya. Menangis, berteriak, berguling-guling sudah jadi hal yang biasa lah, yaa... Hehehe.

Kuat-kuatin hati yaa, Mak.. Banyak-banyakin sabarnya.. Semua ini tidak mudah, maka itu Allah berjanji akan membalasnya dengan Surga. Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang baik dan terbaiiik untuk anak-anak, dan anak-anak bisa tumbuh menjadi anak yang baik sesuai dengan yang kita semua harapkan. Aamiin Ya Rabbal'alaamiin.
Share
Tweet
Pin
Share
7 comments

Menggendong Itu Mencerdaskan Anak - Emak-emak dari zaman old sampai zaman now, pastilah sangat akrab dengan gendongan. Ternyata memang menurut para ahli, menggendong itu dapat mencerdaskan anak. Percaya, kah?

Beberapa waktu yang lalu, Komunitas Ibu Profesional Batam mengadakan kulwap (kuliah di Whatsapp) tentang "Menggendong Itu Mencerdaskan Anak" bersama narasumber Dr. Ika Fairuza.
Infografis by Dr. Ika Fairuza.

Beliau adalah seorang dokter umum, dosen, aktif sebagai pengurus AIMI Kepri (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Kepulauan Riau), Nusantara Menggendong dan Kepri Menggendong. Dr. Ika banyak dikenal oleh emak-emak Batam sebagai babywearing consultant, bisa juga diajak diskusi atau "curhat" seputar ASI dan mengASIhi.

Kembali ke pembahasan Menggendong Itu Mencerdaskan Anak, saya akan share materi yang Dr. Ika bagikan di saat kulwap. Ada 5 alasan, mengapa menggendong itu dapat mencerdaskan anak. Simak di bawah ini, yah..

Infografis by Dr. Ika Fairuza

1. Menggendong itu mempererat bonding
Menggendong itu melekatkan ayah/ibunya. Posisi bayi dan ayah/ibu menjadi sangat dekat ketika menggendong, sehingga memudahkan ayah/ibu berinteraksi dengan anak seperti menatapnya, berbicara, bakan menciumnya. Saat itulah bonding anatara ayah/ibu terjalin.

2. Bayi yang digendong jadi jarang menangis
Di dalam gendongan, bayi menjadi lebih tenang. Baginya, dunia ini adalah tempat yang asing. Berada dekat dengan ayah/ibu di dalam gendongan membuatnya merasa aman dan bisa belajar mengenal dunia dan sekitarnya dengan lebih baik.

3. Bayi yang digendong mendapatkan banyak stimulasi dari lingkungan sekitarnya
Saat di dalam gendongan, bayi bisa melihat apa yang dilihat oleh ayah/ibu, bayi bisa mendengar apa yang diucapkan oleh ayah/ibu. Semua ini termasuk stimulasi untuk kecerdasan bayi.

4. Bayi yang digendong dapat tidur lebih nyenyak
Tidur adalah bagian yang penting dalam proses tumbuh kembang bayi. Tubuh ayah/ibu membuatnya tenang, bahkan kalau dia terbangun, ayah/ibu bisa dengan mudah menidurkannya kembali.

5. Bayi yang digendong lebih cepat beradaptasi
Sering kali kita menggendong bayi sambil mengerjakan beberapa aktivitas. Karenanya, bayi akan terbiasa mendengar suara "ribut" dari aktivitas yang ayah/ibu kerjakan. Ini membuat bayi jadi lebih mudah mengenal aktivitas kita dan sekitarnya tanpa harus takut dengan suara "ribut".

Infografis by Dr. Ika Fairuza

Lalu benarkah sering menggendong membuat anak JADI MANJA?

Tidak dipungkiri, banyak orang tua yang menganggap bahwa menggendong dapat membuat anak menjadi lebih manja dan tidak mandiri. Tapi kita bisa lihat faktanya dari 5 alasan yang ada di atas, menggendong punya banyak manfaat yang bisa mencerdaskan anak, bukan membentuk anak menjadi manja.

Bagaimana dengan pendapat bahwa anak yang sering digendong akan manjadi BAU TANGAN?

Ini mitos ya, Mak. Setiap bayi punya kebutuhan untuk disentuh, disayang, dipeluk, merasa aman, direspon cepat kebutuhannya. Dengan menggendong, bayi mendapatkan apa yang ia butuhkan itu. Wajar saja kalau akhirnya ia menjadi lebih suka digendong, jadi bukan karena bau tangan. Kecuali kalau emaknya lagi bersihin ikan asin dan lupa cuci tangan sebelum menggendong bayi. Beda cerita ya, Mak..

Menggendong, capek, dong? Kita bisa mempelajari teknik menggendong yang baik, mulai dari gendongannya, posisinya, dan lain sebagainya yang dapat meminimalisir pegal karena menggendong. Yang perlu diingat, keadaan ini nggak akan lama. Bayi akan bertumbuh besar dan semakin besar, dia lebih mengenal dunianya, sekitarnya, teman-temannya. Lalu dia tidak membutuhkan gendongan itu lagi, dia menemukan kenyamanan di atas kakinya sendiri. Masa-masa ini kelak akan kita rindukan, masa-masa ini adalah masa yang sangat sebentar. Bersabarlah..

Tips Menggendong Ala Dr. Ika Fairuza:

"Apapun gendongannya, selalu pastikan keamanannya, baru kenyamanannya, baru pride/kebangggan memakainya. Jangan kebalik. Beli yang terbaru dan kekinian, eh ternyata nggak aman dan nggak nyaman." #truestory
- Dr. Ika Fairuza, Babywearing Consultant in Trainee from School of Babywearing, UK -

Mulai sekarang, ayah/ibu jangan ragu untuk menggendong. Manfaatkan waktu yang sebentar ini untuk lebih dekat bersama si buah hati, ayo menggendong!
Share
Tweet
Pin
Share
5 comments
Newer Posts
Older Posts

About Me




Hai, saya Juli Yastuti, akrab dipanggil Juli atau Yasti. Bagi saya, menulis adalah cara menebar manfaat termudah. Mau tahu lebih lengkap tentang saya?


Baca Selengkapnya >

Contact


Email : ceritaumi2017@gmail.com / Whatsapp : 083184213939

Find Me Here

Followers

Part Of



My Books




Recent Post

Popular Posts

  • Sudah Lama Ditunggu, HokBen Akhirnya Buka Gerai Pertama di Batam
  • Cobain Jadi Pilot! Family Gathering HUT Blogger Kepri ke-8 Tahun di FlyBest Flight Academy
  • Menyenangkan! Pengalaman Berlayar Menggunakan Kapal Roro Dari Batam ke Riau Selama 18 Jam
  • Pohon Literasi, Stimulasi Anak Suka Membaca
  • Aku Sayang Ibu, Catatan Literasi Pertama Aal

Member Of




Categories

  • Sharing
  • Info & Tips
  • Parenting
  • Family
  • Traveling
  • Institut Ibu Profesional (IIP)
  • Batam
  • Homeschooling
  • Review
  • Event
  • Tentang Buku
  • Kuliner
  • Gelora Madani Batam
  • Kolaborasi Blog
  • Mahasiswa
  • Puisi

Blog Archive

  • ►  2011 (11)
    • Jun 2011 (5)
    • Jul 2011 (6)
  • ►  2012 (2)
    • Nov 2012 (2)
  • ►  2013 (7)
    • Jan 2013 (1)
    • Feb 2013 (3)
    • Mar 2013 (1)
    • May 2013 (1)
    • Jun 2013 (1)
  • ►  2014 (13)
    • May 2014 (4)
    • Jun 2014 (4)
    • Jul 2014 (3)
    • Sep 2014 (2)
  • ►  2015 (3)
    • May 2015 (2)
    • Nov 2015 (1)
  • ►  2016 (3)
    • Jan 2016 (2)
    • Mar 2016 (1)
  • ►  2017 (56)
    • Feb 2017 (1)
    • Jun 2017 (1)
    • Aug 2017 (10)
    • Sep 2017 (1)
    • Oct 2017 (5)
    • Nov 2017 (25)
    • Dec 2017 (13)
  • ►  2018 (142)
    • Jan 2018 (21)
    • Feb 2018 (15)
    • Mar 2018 (18)
    • Apr 2018 (13)
    • May 2018 (17)
    • Jun 2018 (7)
    • Jul 2018 (9)
    • Aug 2018 (11)
    • Sep 2018 (5)
    • Oct 2018 (8)
    • Nov 2018 (7)
    • Dec 2018 (11)
  • ►  2019 (67)
    • Jan 2019 (8)
    • Feb 2019 (6)
    • Mar 2019 (7)
    • Apr 2019 (4)
    • May 2019 (5)
    • Jun 2019 (10)
    • Jul 2019 (6)
    • Aug 2019 (3)
    • Sep 2019 (6)
    • Oct 2019 (5)
    • Nov 2019 (2)
    • Dec 2019 (5)
  • ►  2020 (28)
    • Jan 2020 (7)
    • Feb 2020 (3)
    • Mar 2020 (4)
    • Apr 2020 (1)
    • May 2020 (3)
    • Jun 2020 (3)
    • Jul 2020 (2)
    • Aug 2020 (1)
    • Oct 2020 (1)
    • Nov 2020 (1)
    • Dec 2020 (2)
  • ►  2021 (28)
    • Jan 2021 (1)
    • Apr 2021 (2)
    • May 2021 (2)
    • Jun 2021 (2)
    • Jul 2021 (4)
    • Aug 2021 (4)
    • Sep 2021 (1)
    • Oct 2021 (4)
    • Nov 2021 (4)
    • Dec 2021 (4)
  • ►  2022 (14)
    • Mar 2022 (2)
    • Apr 2022 (1)
    • May 2022 (1)
    • Jun 2022 (2)
    • Jul 2022 (2)
    • Aug 2022 (2)
    • Sep 2022 (3)
    • Oct 2022 (1)
  • ►  2023 (10)
    • Jan 2023 (3)
    • Feb 2023 (2)
    • Mar 2023 (1)
    • Jun 2023 (1)
    • Jul 2023 (2)
    • Oct 2023 (1)
  • ►  2024 (1)
    • Feb 2024 (1)
  • ▼  2025 (2)
    • Jan 2025 (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates