Seminar Parenting Roemah Emak: Cara Mendisiplinkan Anak Dengan Cinta

by - 9:20 AM


Cara Mendisiplinkan Anak Dengan Cinta - Hari itu adalah hari yang sangat berkesan bagi saya. Hadir di sebuah seminar parenting yang luar biasa menguras emosi, hati dan perasaan saya sebagai seorang ibu yang belum sempurna. Tema seminarnya adalah Mendisiplinkan Anak Dengan Cinta, bertempat di aula lantai 4 Kantor Walikota pada tanggal 10 Maret 2019 jam 09.00 sd 12.00 wib.

Sesungguhnya saya butuh waktu lebih dari 3 jam untuk berada di seminar itu dan duduk tenang mendengarkan Emak Fitri bercerita penuh faedah. Duduk tenang? Ya, kebetulan hari itu saya tidak membawa serta anak-anak dan bisa fokus menyimak materi seminar dengan seksama.

Tentang Roemah Emak

Sebelum saya bahas sedikit tentang materi yang saya dapat di seminar tersebut, ada baiknya saya memperkenalkan komunitas Roemah Emak ini lebih dulu. Meskipun saya belum terlalu dalam mengenal Roemah Emak, tapi semoga lumayan bisa memberikan informasi kepada yang membaca tulisan ini ya.

Nama lengkap beliau adalah Safithrie Sutrisno, atau panggilan sederhananya adalah Emak Fitri. Beliau adalah founder Komunitas Roemah Emak, komunitas yang menjadi wadah belajar para emak dan ayah dalam hal pengasuhan anak (parenting). Tidak hanya itu, di Roemah Emak ini juga beberapa pelatihan seperti self emotional healing, teacher coach, dan marriage consultant. MasyaAllah, keren, kan?

MENDISIPLINKAN ANAK DENGAN CINTA

Bicara tentang disiplin, apa sih sebenarnya disiplin itu? Disiplin itu menanamkan kebiasaan baik yang akhirnya berlaku secara terus menerus. Disiplin itu bersifat intristik, dari dalam hati, bukan sebuah paksaan. Disiplin itu membentuk kepribadian dan pengendalian diri. Disiplin itu adalah pernyataan cinta.

Pertanyaannya, apakah ibu dan ayahnya SUDAH DISIPLIN?

Kalau belum, yuk lahh mari kita belajar disiplin bersama dengan anak-anak dan jangan berekspektasi terlalu tinggi kepada anak agar bisa disiplin dalam waktu yang singkat.

Sebelum masuk ke pembahasan tentang disiplin lebih dalam, sudahkah kita ketahui bahwa anak-anak berhak mendapatkan 5 hal terbaik dari kita orang tuanya? 5 hal terbaik tersebut antara lain:

1. Cinta Terbaik
2. Waktu Terbaik
3. Senyum Terbaik
4. Kata Terbaik
5. Sikap Terbaik

Sudahkah kita memberikan 5 hal tersebut kepada mereka? Atau selama ini yang ada hanya bentakan dan teriakan saja yang mereka dapatkan dari kita?

Hmm, banyak diantara kami yang tersentuh dan akhirnya menangis mengingat hal ini. Selama ini kita berharap anak mau mendengarkan perkataan kita, mengikuti nasihat kita, kita marah ketika mereka tidak mau menuruti semua itu, kita teriaki mereka ketika mereka berbuat ulah yang tak sesuai dengan harapan kita.

Cara itu keliru, cara itu salah. Sesuatu yang baik harus disampaikan dengan cara yang baik pula, dengan cinta, dengan memenuhi hal-hal terbaik yang memang sudah menjadi hak mereka untuk mendapatkannya.

"Sabar adalah kunci dan sabar itu tidak berbatas." - Emak Fitri -

Mendisiplinkan Anak Itu Bermula Dari Komunikasi Yang Tepat

Sebagai seorang ibu, seharusnya kita mau mempelajari bagaimana membangun komunikasi yang menyenangkan untuk anak-anak. Seperti apa komunikasi sudah menyenangkan itu? Yaitu ketika komunikasi mampu menciptakan hubungan yang lebih baik dengan lawan bicara kita, dalam hal ini adalah anak.

Kalau komunikasi kita membuat orang malas mendengar, acuh atau bahkan malah memberontak terhadap kita, itu berarti kita perlu mengevaluasi kembali cara komunikasi kita menjadi komunikasi yang positif. Komunikasi yang positif akan membuat komunikasi menjadi menyenangkan, komunikasi yang positif akan memudahkan pesan diterima oleh lawan bicara kita, dan anak akan belajar menyampaikan sesuatu dengan cara yang positif pula.

Membangun komunikasi positif dengan 3 kunci, yaitu:
1. Intonasi suara
2. Pilihan kata-kata
3. Bahasa tubuh

"Dek, ambil itu, cepat!", atau
"Dek, boleh tolong Umi ambilkan itu?"

Kira-kira pilihan kata mana yang lebih nyaman dan pantas untuk didengar?

Komunikasi bukanlah tentang 'apa yang kita sampaikan', melainkan 'apa yang ditangkap oleh lawan bicara kita'.

Langkah-Langkah Membangun Disiplin

1. Komunikasi yang tepat

Di atas sudah kita bahas sedikit tentang komunikasi. Sebagai tambahan, dalam berkomunikasi kita juga harus mempelajari strategi bicara, dalam hal ini adalah bentuk penyampaian. Apakah kita menyampaikan sebuah perintah, permintaan, atau negosiasi. Sampaikan dengan jelas dan tetap jaga 3 kunci komunikasi positif.

2. Konsistensi

Saraf-saraf otak anak bersambung dengan pesat disaat usianya 0-6 tahun. Di saat inilah kesempatan kita menanamkan hal baik dengan cara yang baik secara konsisten agar hal baik tersebut tersambung kuat di dalam saraf otaknya. Namun jika sekali saja kita sampaikan hal baik dengan cara yang kurang baik (kasar, teriakan atau bentakan), maka seketika saraf itu akan putus dan kita harus memulainya dari awal lagi.

"Sabar adalah kunci dan sabar itu tidak berbatas." - Emak Fitri -

3. Konsekuensi

Berikan konsekuensi (yang berhubungan dengan perkara) dan izinkan anak berbuat kesalahan. Misalnya, ketika kita membangunkan anak untuk pergi ke sekolah, sepakati bersama bahwa kita hanya akan membangunkannya sebanyak 3 kali. Jika ia tidak juga bangun setelah 3 kali dibangunkan, maka konsekuensinya kita tidak akan membangunkannya lagi tapi dia tetap harus pergi sekolah.

Selanjutnya, biarkan ia melakukan kesalahan, yaitu terlambat tiba di sekolah. Tentu pihak sekolah punya kebijakan sendiri tentang konsekuesi jika terlambat datang ke sekolah, beridiri di depan kelas misalnya, atau lain sebagainya. Ajarkan anak agar berlapang dada menerima konsekuensi dari keterlambatannya.

4. Kreatif & fleksibel

Membangun disiplin juga harus kreatif agar suasana lebih menyenangan, tidak mencekam. Membangun disiplin juga jangan kaku, fleksibel akan lebih baik. Ajak anak berdiskusi, dengarkan pendapatnya, dengarkan kemauannya, begitu pula sebaliknya. Lalu sepakati keputusan bersama. Anak akan lebih merasa dihargai oleh orang tuanya.

5. Bantu anak bersikap baik

Kekeliruan yang sering terjadi ketika anak ingin melakukan sesuatu yang baik tetapi kita malah melarangnya. Contohnya, anak membantu ibu menuangkan air minum tapi kita larang karena takut tumpah, anak mau mencuci piring tapi kita takut piringnya jatuh dan pecah. Mungkin lebih baik jika kita bantu mereka, bagaimana agar tidak terjadi yang tidak diinginkan. Jadi, jangan langsung mentah-mentah dilarang atau diambil alih niat baik mereka.

6. Kuasai diri (bukan anak)

Siap-siapkan hati dan mental dalam mendisiplinkan anak-anak, jangan mudah terpancing emosi. Ini tugas besar, modal sabar juga kudu besar. Jangan mengira kalau sabar itu berbatas, sabar itu tidak berbatas.

7. Responsible love

Disiplinkan anak dengan cinta, nada suara penuh cinta, sentuhan penuh cinta, kata-kata penuh cinta, bahkan marah juga penuh cinta.

Mendisiplinkan Anak Dengan Membangun Rutinitas

Rutinitas adalah kegiatan yang berurutan dan dilakukan secara berulang. Rutinitas ini berisi aturan-aturan, kegiatan yang harus anak lakukan, dan kegiatan yang ingin anak-anak lakukan. Sepakati rutinitas ini bersama ayah, ibu dan juga anak. Buat rutinitas secara tertulis, agar lebih jelas dan mudah untuk mengingatkan anak ketika mereka lupa.

Dalam menjalankan rutinitas, fokus pada kelebihan anak saja, jangan mencapnya, dan pasang kepercayaan kita terhadapnya. Berikan pujian ketika anak melakukan kegiatan sesuai dengan yang sudah disepakati bersama

"Abaikan ketika anak berbuat nakal, lihat dia ketika berbuat baik." - Emak Fitri -

Pada intinya, buka kembali hati kita sebagai orang tua. Coba lihat anak kita, apakah mereka pantas mendapatkan perilaku kurang menyenangkan dari kita? Bentakan, amarah, bahkan pukulan atau cubitan? Na'udzubillah.

Pasang kembali rasa cinta kita terhadap mereka, cinta ya cinta saja, tanpa alasan apapun (unconditional love). Maafkan kesalahannya karena saraf otaknya yang belum tersambung sempurna, bantu dia agar menjadi lebih baik dengan sikap dan perkataan kita yang baik pula.

"Tentu dengan cara yang baik, ketika kita mengharapkan orang bisa menjadi lebih baik" - @cerita_umi -

Sekian yang bisa saya share terkait materi seminar bersama Emak Fitri yang diadakan oleh Roemah Emak tempo hari. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menulis atau menyampaikan, sesungguhnya tulisan ini adalah sebagai media pengingat diri sendiri.

Semoga kita bisa terus berusaha menjadi ibu yang lebih baik, yang penuh cinta dalam mendidik dan mendisiplinkan anak-anak kita. Dan untuk para ayah, bantu ibu untuk terus bahagia dan jauh dari kegalauan. Ibu yang bahagia maka seisi rumah akan lebih bahagia.

Baca juga: Bahagiakan Pasangan Dengan Cara Yang Tepat, Kenali Bahasa Cintanya!

You May Also Like

5 comments

  1. Keren mba Jul.. berguna banget
    .jadi ngefans Sm mba Juli.. muda dan smart.. punya visi misi yg udah terkerangka dg baik nih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah. Terima kasih mbak. Ini bahan buat belajar mbak, saya juga masih hrs belajar.. :)

      Delete
  2. Makasih lho sharing-nya, mbak. Penting banget bahasan cara mendisiplinkan anak.

    Dari yg aku amati, ponakan2ku yg didisiplinkan dengan cara "dimarahi" biasanya malah makin "susah diomongin" (istilah yg sering dipakai ibu2 di Jawa). Keliatan banget kalau mereka nurutin orang tua cuma karena takut (supaya nggak dipukul, dibentak, dll), tp aslinya nggak terlalu memperhatikan apa yg disampaikan orang tuanya

    Sementara anak2 yg dinasehati baik2 sesekali memang "nakal", tapi masih sebatas rasa penasaran anak2 aja dan kelihatan lebih mendengarkan orang tua

    Oiya, kalau sewaktu mengajak anak berefleksi diri atas kesalahannya (misalnya telat sekolah karena kesiangan, padahal sudah janji bangun pagi), baiknya kata2 yg digunakan seperti apa ya mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak, terima kasih lho sudah berkunjung. Hehehe.

      Hmm, tetap pakai kata2 yg positif aja mbak. Misalnya, "kamu tetep harus sekolah ya, walaupun telat. Itu konsekuensinya kalau bangun kesiangan. Gpp, kamu harus berani bertanggungjawab. Ini jadi pelajaran supaya besok2 kamu tidak sampai kesiangan lagi ya.."

      Mungkin kira2 seperti itu ya, mbak. :)

      Delete
  3. Assalamu alaikum... Sebelumnya terima kasih telah menulis artikel yang benar2 bermanfaat.. Ada satu hal yang ingin saya tanyakan diusia berapa anak2 harus mulai di disiplinkan.. Dari contoh diatas ada contoh kesepakatn yang persis dengan yang saya alami..susah untuk bangun sekolah padahal semalam sudah sepakat besok mau sekolah
    Hanya saja anak saya masih 5 tahun apa bisa...
    Haruskah saya memaksa anak saya untuk sekolah.. Atau ya sudahlah jangan terlalu memaksa toh nasih TK ini ..
    Kekhawatiran saya adalah jika hal seperti ini akan terbawa..
    .
    Jadi saya harus gimana?

    ReplyDelete