Cara Menghadapi Anak Yang Pintar Bernegosiasi Untuk Mendapatkan Keinginannya

by - 8:20 AM


Semakin besar usia anak, semakin besar pula cobaan yang akan dihadapi orangtua. Terlebih ketika anak sudah pandai bicara dan mengemukakan pendapat dan keinginannya. Tak jarang mereka bernegosiasi dan melakukan presentasi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Usia Aal 4 tahun ini, dia semakin cerdas bernegosiasi untuk memenuhi keinginannya. Beragam alasan ia sampaikan dengan manis agar saya segera memenuhi keinginannya.

"Umi, lihat...ada fire truck, loh.. Ini fire trucknya sama kayak yang di video di TV Aal. Bagus ini buat belajar Aal, kalau ada orang yang butuh bantuan untuk memadamkan api, bisa kok pake fire truck ini." MasyaAllah, itu pelayan toko juga ikut membantu presentasi kebolehan barang jualannya.

"Iya, bagus ya fire trucknya. Tapi kita nggak beli itu sekarang, Sayang.."

"Loh, kenapa? Ini kan bagus buat Aal belajar membantu orang lain.." Uhh, alasan yang mulia.

"Iya, Aal baik, suka membantu Umi kok walaupun tidak pakai fire truck itu. Bantu orang dengan cara lain, ya.."

"Loh, kenapa?"

(saya menjelaskan lagi)

"Loh, kenapa?"

(saya menjelaskan lagi)

"Loh, kenapa?"

Pingsan.

Ya begitulah, kesabaran harus selalu diisi ulang saat menghadapi balita yang pikirannya out of the box. MasyaAllah, pintarnyaa bernegosasi.

Menghadapi anak seperti ini, selain kesabaran kita juga butuh rules yang jelas. Tentunya rules ini harus disepakati bersama. Kami menyebutnya sebagai "rules of the game".

Tentang apapun dikeseharian kami, selalu ada rules of the game yang kami sepakati bersama demi kesejahteraan bersama. Termasuk rules of the game saat berbelanja, karena saat belanja inilah gagal fokus terjadi pada barang-barang yang semestinya dibeli atau tidak perlu dibeli.

Begini cara kami menghadapi Aal yang pintar bernegosiasi untuk mendapatkan keinginannya:

1. Komunikasi

Ini yang terpenting dari segala yang penting. Kami selalu melakukan komunikasi sebelum membuat rules of the game. Komunikasi dengan cara bercerita saja, ceritakan tentang apa yang akan kita lakukan hari itu.

Misalnya, hari ini kita akan pergi ke supermarket, Umi mau membeli beberapa kebutuhan rumah yang sudah habis. Biasanya dia bertanya dan saya menjawab detail barang-barang yang akan kami beli. Dan sampaikan bahwa kita tidak membeli barang lainnya selain barang yang kita butuhkan itu, lalu sepakati bersama.

2. Konsisten

Setelah komunikasi dan terjalin kesepakatan, konsisten adalah kunci keberhasilannya. Namanya bocah, pasti ada saja magnet yang menariknya ke arah rak-rak mainan yang dijual. Ikuti saja, melihat kan tidak mungkin dilarang. Tapi tetap harus konsisten dengan kesepakatan, jangan sampai jebol tembok pertahanan karena negosiasinya yang jitu. Katakan tidak jika memang kesepakatan awal adalah tidak.

3. Beri motivasi, bukan sekedar janji

Seperti contoh di atas tadi, dia presentasi sebaik mungkin agar saya mau membelikannya mainan saat itu. Jawaban saya, "kita tidak beli mainan itu sekarang, " atau "kita ke sini beli sabun, bukan beli mobilan, Nak.."

Hindari berikan janji "besok, ya..," atau "minta sama Abi," atau "tunggu Abi libur."

Berikan motivasi seperti "iya ya, mobilnya bagus. Aal menabung, Aal berdoa sama Allah semoga kita murah rezekinya. Kalau mobil itu rezeki Aal, pasti nanti Aal bisa punya mobil seperti itu."

Meskipun harga mobil itu hanya Rp30.000, intinya bukan pada mampu atau tidak mampunya membeli, tapi mengajarkan anak untuk berusaha lebih dulu untuk mendapatkan sesuatu. Biasanya dia akan lebih menghargai dan menjaga barang itu, karena ia dapatkan dengan usaha dan doa di setiap selesai sholatnya.

Doa Aal, "Ya Allah, sehatkan aku, Umi Abiku, adikku semua keluargaku. Jauhkan kami dari orang jahat. Ya Allah, mudahkan rezekiku, aku mau beli fire truck yang kemarin ada di Botania, bagus deh, tangganya panjang, ya Allah. Trus bisa buatku belajar membantu orang-orang yang kebakaran.. Aamiin."

4. Apresiasi

Di lain kesempatan, jika ia mendapatkan apa yang ia inginkan, apresiasikan dirinya atas segala kesabaran, usaha dan doanya selama ini.

"Wahh, Aal sudah menabung, ya? Tiap dikasih uang disimpan, ya? Alhamdulillah ya, Allah berikan Aal rezeki, akhirnya bisa beli mainannya. Bilang apa sama Allah?"

"Alhamdulillah... Terima kasih, Ya Allah.."

Itu dia 4 cara kami menghadapi Aal yang pintar bernegosiasi untuk mendapatkan keinginannya. Banyak pelajaran lain yang bisa kita sisipkan di sini, misalnya melatih kesabaran, giat berusaha, tawwakal kepada Allah, mengajarkan anak bahwa rezeki kita datangnya dari Allah, dan tiap keinginan itu kita dapatkan dengan usaha dan doa.

Kalau bu-ibu pak-bapak lainnya ada pengalaman yang sama, kah?

Berbagi di kolom komentar, yuk!

Semoga bermanfaat.. :)

Baca juga: Pra Toilet Training Anak 16 bulan (tantangan hari ke-4)

Juli Yastuti
• Tantangan 10 hari
• Hari ke-5
• Game Level 7
• Semua Anak Adalah Bintang
• Kuliah Bunda Sayang IIP

You May Also Like

2 comments

  1. Iihh pintar kali Aal nii.. Barakallah..
    Tipsnya serupa dg yg d buku abah ihsan.. Klo utk ngadepin anak yg blm bs diajak komunikasi dua arah gt, gmn ya? #curcol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama mbak, sounding aja. Biasanya reaksinya tantrum ya, yaudah hadapi aja. Tantrum kdg menjadi trik anak supaya keinginannya terpenuhi. Kasih aja waktu utk tantrum, jelaskan kalau keputusan tdk akan berubah, mau menangis silhkan kita tunggu dia menangis. Jadi inget Aal 2 tahunan dulu, hehehe.

      Delete